Pengertian, Tujuan, Syarat, Rukun dan Prinsip Akad

Pengertian, Tujuan, Syarat, Rukun dan Prinsip Akad

Pengertian, Tujuan, Syarat, Rukun dan Prinsip Akad – Salah satu bagian dari ilmu fiqh yang mengatur hubungan manusia dengan manusia serta urusan keduniawian adalah fiqh muamalah. Salah satu contoh yaitu tidak semua orang memiliki barang yang ia butuhkan, sedangkan orang lain memiliki barang tersebut, dengan adanya kesepakatan antara kedua belah pihak, maka akan terjadi suatu transaksi. Kesepakatan tersebut timbul apabila kedua belah pihak telah terikat satu sama lain dalam suatu ijab dan Kabul. Inilah yang disebut dengan akad dalam islam. Akad tersebut digunakan dalam melakukan suatu transaksi maupun kerjasama dengan orang lain. Dari paparan di atas, penulis tertarik untuk menyusun sebuah makalah yang membicarakan tentang konsep akad dalam akad dari segi fungsinya yang berisi mengenai pengertian, tujuan, syarat, rukun, prinsip dan dasar hukum syar’i Akad

RUMUSAN MASALAH

a. Bagaimana pengertian dan tujuan akad?
b. Bagaimana syarat dan rukun akad?
c. Bagaimana prinsip akad?
d. Bagaimana dasar hukum syar’I akad?
TUJUAN PENULISAN
Mengetahui pengertian dan tujuan akad.
Mengetahui syarat dan rukun akad.
Mengerahui prinsip akad.
Mengerahui dasar hukum syar’I akad.

PENGERTIAN AKAD

Kata akad berasal dari Bahasa Arab al-‘aqd yang secara etimolagi berarti perikatan, perjanjian dan permufakatan, (al-ittifaq).[1] Secara terminology fiqh, akad didefinisikan dengan ”pertalian ijab (pernyataan melakukan ikatan) dan Kabul (pernyataan penerimaan ikatan) sesuai dengan kehendak syari’at yang berpengaruh pada objek perikatan”. Menurut Hasbi Ash-Shiddieqy, yang mengutip definisi yang dikemukakan Al-Sanhury, akad ialah: perikatan ijab dan Kabul yang dibenarkan syara’ yang menetapkan kerelaan kedua belah pihak.

Akad adalah suatu perikatan antara ijab dan Kabul dengan cara yang dibenarkan syara, yang menetapkan adanya akibat-akibat hukum pada objeknya.[2]
TUJUAN AKAD

Ahmad Azhar Basyir menentukan syarat-syarat yang harus dipenuhi agar suatu tujuan akad dipandang sah dan mempunyai akibat hukum[3], yaitu:
Tujuan akad tidak merupakan kewajiban yang telah ada atas pihak-pihak yang bersangkutan tanpa akad yang diadakan.
Tujuan harus berlangsung adanya hingga berakhirnya pelaksanaan akad.
Tujuan akad harus dibenarkan syara’.

RUKUN DAN SYARAT AKAD

Dalam menjalankan Akad perlu adanya Rukun dan syarat akad yang harus dijalani, berikut adalah rukun dan syaratnya:

Rukun-rukun akad

1. ‘Aqid, adalah orang yang berakad terkadang masing-masing pihak terdiri dari satu orang, terkadang terdiri dari beberapa beberapa orang.

2. Ma’qud alaih, ialah benda-benda yang diakadkan, seperti benda-benda yang dijual dalam akad jual beli, dalam akad hibah (pemberian), gadai, utang yang dijamin seseorang dalam akad kafalah.

3. Maudhu’ al-‘aqd, yaitu tujuan atau maksud pokok mengadakan akad. Berbeda akad maka berbedalah tujuan pokok akad.

4. Shighat al-aqd, ialah ijab Kabul, ijab ialah permulaan penjelasan yang keluar dari salah seorang yang berakad sebagai gambaran kehendaknya dalam mengadakan akad. Kabul ialah perkataam yang keluar dari pihak yang berakad pula yang diucapkan setelah adanya ijab.

 

Sumber:  https://www.ilmubahasainggris.com/