Kualitas SDM Menurun, Indonesia Darurat Matematika

Kualitas SDM Menurun, Indonesia Darurat Matematika

Kualitas SDM Menurun, Indonesia Darurat Matematika

Indonesia mengalami darurat matematika. Setidaknya itu yang tergambar

dari hasil penelitian terbaruResearch on Improvement of System Education (RISE).

Terungkap dari kemampuan siswa memecahkan soal sederhana, tidak berbeda secara signifikan antara siswa baru masuk sekolah dasar, dan yang sudah tamat SMU.

Hal ini diungkap Presidium Gerakan Nasional Pemberantasan Buta Matematika (Gernas Tastaka), Ahmad Rizali.
Menurutnya, kondisi kegawatdaruratan ini belum juga be­ranjak sejak tahun 2000. Data Indonesia Family Life Survey (IFLS) pada 2000, 2007 dan 2014 yang mewakili 83 persen populasi Indonesia, juga menunjukkan ke­daruratan bermatematika.

Kedaruratan terjadi karena jumlah responden yang memiliki kompetensi kurang sangat ting­gi.

Lebih dari 85 persen lulusan SD, 75 persen lulusan SMP dan 55 persen lulusan SMU hanya mencapai tingkat kompetensi siswa kelas 2 ke bawah. Hanya sedikit saja yang memiliki ting­kat kompetensi kelas 4 dan 5.

“Survey IFLS ini, menunjuk­kan kemunduran kompetensi siswa secara akut. Kita tidak boleh mengabaikan temuan-temuan ini jika bangsa Indonesia ingin lebih baik, tidak bangkrut atau bubar. Karena kualitas SDM bangsa ini dari tahun ke tahun mengalami penurunan signifi­kan,” katanya.

Menurut Rizali, selama hampir 20 tahun reformasi, bangsa ini mengabaikan kompetensi

generasi emas Indonesia. Akibatnya, kondisi sosial politik dan ekono­mi Indonesia selalu tertinggal dari negara-negara maju.

Pihaknya mengajak seluruh komponen masyarakat bersinergi dan saling gotong royong melakukan usaha pemberantasan buta matematika ini.

“Tidak hanya pemerintah. Tapi juga masyarakat luas. Bukan hanya praktisi pendidikan. Ttapi juga mahasiswa, profesional, swasta, bahkan ibu rumah tangga,” imbuhnya.
Peneliti dari RISE, Niken Rarasati menerangkan, kondisi gawat darurat matematika pada siswa SD hingga SMU, dikhawatirkan berdampak pada kemampuan anak-anak dalam berpikir dan bernalar, serta menyelesaikan permasalahan sehari-hari.

“Yang disebut gawat darurat adalah, kemampuan matematika tidak berkembang seiring ber­tambahnya tingkat sekolah yang diikuti anak-anak. Penurunan ini terjadi dari tahun ke tahun,” paparnya.

 

Sumber :

https://yettrue.com/trik-membuat-puisi-yang-baik-dan-benar/