Kembangkan Portal Online

Kembangkan Portal Online

Kembangkan Portal Online

Sebagian besar penduduk Indonesia telah memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi

dan komunikasi (TIK) dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal penggunaan internet, misalnya, Indonesia menduduki peringkat ke-11 dunia.

Negara ini juga menjadi peringkat ke-4 dan ke-5 untuk kepemilikan akun Facebook dan Twitter. Sementara untuk telepon selular, ada sekitar 314,3 juta orang Indonesia yang menggunakannya. Jumlah ini melebihi penduduk Indonesia sekitar 255 juta orang.

’’Itu artinya, satu orang punya lebih dari satu telepon selular. Oleh karena itu, layanan Kementerian harus juga menjangkau versi mobile,” tutur Plt Kepala Pusat Informasi dan Humas, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Ari Santoso, di Jakarta, belum lama ini.

Masifnya penggunaan TIK dalam kehidupan sehari-hari, perlu pula diikuti

dengan peningkatan layanan bagi masyarakat dengan memanfaatkan teknologi daring (online) ini. Portal dapat menjadi salah satu pilihan yang tepat dalam memberikan layanan kepada masyarakat dalam bentuk daring atau disebut e-layanan.

Kemendikbud terus berupaya meningkatkan e-layanan yang dapat dimanfaatkan masyarakat tanpa perlu hadir secara langsung di kantor Kemendikbud. Ari yang juga Kepala Pustekkom Kemdikbud menjelaskan, menjadi portal yang menyediakan e-layanan berarti perlu memperhatikan sejumlah hal agar dapat diakses dengan mudah.

Pertama, usability. Artinya ia mudah dipelajari, efisien digunakan, mudah diingat,

memuaskan pengunjung, dan memiliki frekuensi kesalahan yang minim. Kedua, memiliki sistem navigasi yang mudah dipahami oleh pengunjung. Ketiga, andal dalam menghadapi perubahan teknologi web, isu keamanan, dan akses pengunjung yang besar. ’’Jangan sampai ketika pengunjung sedang banyak-banyaknya mengakses portal, tiba-tiba down,” katanya.

Hal lain yang perlu juga diperhatikan adalah desain dan konten portal itu sendiri. Menurut Ari, pemilihan grafis, layout, warna, bentuk maupun typografi penting agar dapat menarik pengunjung untuk menjelajahi website lebih lanjut. ’’Ada istilah ‘content is king, but without good design, content is a naked king’. Konten juga harus mudah di-index oleh mesin pencari dan ukuran filenya ringan,” tambah Ari.

Portal yang baik juga dapat diubah ke versi bahasa Inggris serta dapat dikembangkan ke versi aplikasi mobile yang kompatibel. Tentunya dengan semua sistem operasi dan resolusi layar smartphone dan tablet/pad.

 

Sumber :

https://blog.fe-saburai.ac.id/sejarah-perkembangan-internet-di-indonesia/